Air bersih langka. Instalasi PDAM rusak berat. Aliran listrik pun labil. Banyak jaringan terendam banjir. Kombinasi masalah memukul operasional. Di Kabupaten Bireuen, 19 SPPG berhenti total.
Tim Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional turun lapangan. Dipimpin Deputi Tauwas Letjen TNI purnawirawan Dadang Hendrayuda. Hasilnya tegas.
“Penyebab utama, karena di wilayah Kabupaten Bireun telah terjadi kelangkaan bahan baku, gas, air bersih dan listrik,” tertulis dalam laporan lapangan.
Total terdapat 26 SPPG beroperasi di Bireuen. Dua unit terdampak langsung sejak awal. Kecamatan Jangka serta Peusangan masuk zona terparah. Sekolah diliburkan. Skema penerima manfaat berubah. Program Makan Bergizi Gratis beralih ke warga terdampak.
Ada Distribusi Bantuan
Data lapangan mencatat distribusi besar. Tanggal 26 November 2025 tersalur 62.826 paket. Tanggal 27 November 30.261 paket. Tanggal 28 November 37.180 paket. Tanggal 29 November 38.668 paket. Lima kendaraan operasional dipinjamkan. Tiga mobil distribusi dikerahkan 2 Desember 2025.
Tekanan terus datang. Bahan baku menipis. Listrik belum pulih. Air bersih terbatas. Gas tersendat. Operasional pun dihentikan sementara. “Untuk sementara kami baru dapat melanjutkan operasional hingga hari ini,” tutur Mustafa Kamal.
Di balik lumpur banjir, ada keteguhan. SPPG bertahan, beradaptasi, lalu menunggu pulih.*












Discussion about this post