Rektor Untan, Grauda Wiko pada kesempatan itu menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa dalam program diseminasi pelestarian bahasa daerah dan sastra.

Menurutnya, ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena bahasa merupakan identitas diri sekaligus pengetahuan. Dengan menjaga kelestarian bahasa, berarti turut menjaga warisan budaya.
“Kita semua harus berkomitmen untuk terus menjaga pelestarian bahasa daerah. Karena bahasa daerah merupakan jati diri kita, jangan sampai tenggelam dengan banyaknya bahasa-bahasa lain yang bermunculan dan menjadi tren. Sebagai orang daerah, bahasa daerahlah yang harus tetap menjadi tren,” ujar Garuda Wiko.
Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Dr Dora Amalia pada kesempatan itu mengungkapkan rasa senangnya, karena Balai Bahasa sudah berinisiatif untuk menjalin kerjasama dengan pemangku kepentingan yang sangat relevan dan sangat kuat, yaitu Untan. Terutama bagi program para pengajar, guna memastikan perlindungan bahasa daerah dapat terus berjalan dengan baik.
“Untuk mengimplementasikan bahasa daerah, kita harus mulai dari pengajarnya, dari guru. Karena guru menjadi dasarnya dan menguasai semua mata pelajaran. Bahasa daerah akan kita sisipkan menjadi kurikulum,” katanya.
Diakui Dora, bahwa penggunaan bahasa daerah memang terjadi penurunan, terutama bagi generasi muda yang semakin jarang menggunakan bahasa daerah, lantaran merasa bahasa asing lebih keren,
“Sebetulnya bukan persoalan keren atau tidak keren. Persoalan bahasa ini lebih kepada persoalan jati diri. Kalau bahasa itu hilang, bukan hanya menyangkut komunikasi semata, tapi sumber-sumber pengetahuannya juga ikut hilang,” ucap Dora yang mengajak masyarakat untuk tidak melupakan bahasa daerah akibat serbuan bahasa asing. Sebab bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu, sangat penting sebagai identitas seseorang dan tetap harus dipertahankan. **

















Discussion about this post