Dalam menghadapi tantangan di tahun 2026 ini, Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Barat (Kalbar) telah menyiapkan program-program unggulan dengan melakukan kolaborasi lebih erat bersama stakeholder industri keuangan.
Program unggulan lainnya adalah, kampanye penggunaan aplikasi IDX Mobile untuk memberikan akses informasi gratis dan real time pada masyarakat, memperbanyak kegiatan edukasi online, agar bisa menjangkau masyarakat lebih luas dan lebih banyak.
“Kita juga akan semakin meningkatkan edukasi produk non saham sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat, dan pendampingan bagi perusahaan-perusahaan potensial daerah yang tertarik untuk memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan,”kata Kepala Perwakilan BEI Kalbar, P.H. Ardhy Anto dalam media update pasar modal Indonesia bersama jurnalis di Pontianak, Jumat 6 Februari 2026.

Pada kesempatan tersebut, BEI Kalbar juga menggelar workshop go Public yang bersama Gabungan Perusahaan Alat-alat kesehatan (Gakeslab) Provinsi Kalimantan Barat, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Provinsi Kalimantan Barat dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Pontianak.
Workshop go public bertajuk Go Big With Go Public menjadi perusahan besar melalui pasar modal, menghadirkan narasumber Listyorini Dian Pratiwi selaku Vice Director Listed Company Development Division BEI, Mari Fransiska selaku Head of Investment Banking PT KGI Sekuritas dan Hansen Teguh selaku Head of Investor Relation PT Jayamas Medica Industri Tbk.
Dalam kegiatan tersebut dipaparkan bagaimana seluk beluk tentang IPO terkait manfaatnya, prosesnya, dan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan. Selain itu juga dari narasumber menyampaikan success story perusahaan yang sudah berhasil IPO di BEI.
Tahun 2025 lalu perusahaan startup Topindo Solusi Komunika (TOSK) telah berhasil melantai di BEI dan sukses meraup dana melalui pasar modal sebesar Rp 109,37 miliar dengan melepas sahamnya sebanyak 875 juta lembar.
TOSK menjadi perusahaan startup pertama di Kalimantan Barat yang berhasil masuk pasar saham di Tanah Air. Perusahaan ini didirikan oleh Seiko Manito dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
“Tahun 2026 ini, diperkirakan bakal ada tiga perusahaan yang akan Initial Public Offering (IPO), salah satunya adalah Bank Kalbar. Ini akan kita dorong terus agar berhasil melantai di BEI dan mendapatkan penguatan dana melalui pasar modal,” ujar Ardhy.
Diakuinya, jumlah BPD yang tercatat sahamnya di pasar modal masih sangat minim. Dari sebanyak 27 BPD di seluruh Indonesia, baru tiga perusahaan yang telah menjadi emiten di BEI, yaitu BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT BPD Jawa Timur Tbk (BJTM) dan PT BPD Banten Tbk (BEKS).
“Bank Kalbar layak go public, karena profitabilitas yang kuat dan deviden tinggi,” imbuh Ardhy.
Kepada sejumlah media, Ardhy mengungkapkan kinerja solid dan berbagai capaian signifikan pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025. Capaian positif tercermin dari meningkatnya minat dan partisipasi masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Di wilayah Kalimantan Barat pertumbuhan dan perkembangan pasar modal juga mengesankan. Terjadi kenaikan jumlah investor pasar modal sebanyak 258.248 orang investor, atau naik sebanyak 71.173 investor baru.










Discussion about this post