Langkah ini ditopang prinsip interkoneksi, integrasi, dan interoperabilitas (3I). Penguatan tersebut perlu disertai pemanfaatan data, pengembangan talenta digital, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Teknologi menentukan kecepatan transformasi, sementara kolaborasi memastikan kita bergerak selaras menuju tujuan yang sama,” ujar Filianingsih.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu menekankan, bahwa akses dan infrastruktur digital merupakan fondasi penting, tetapi akses saja tidak cukup.
“Data perlu dimanfaatkan secara optimal agar digitalisasi dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai ekonomi,” ujar Mari Elka.
Sejalan dengan itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, Rini Widyantini, mendorong penguatan infrastuktur digital publik, termasuk pertukaran data yang aman dan terpercaya, untuk menghadirkan layanan publik yang semakin terintegrasi.
“Bank Indonesia membangun rel konektivitas pembayaran, OJK menjaga kepercayaan ekosistem keuangan, dan Pemerintah memastikan setiap warga negara memperoleh pengalaman layanan digital yang setara,” ujar Rini. Semangat tersebut sejalan dengan prinsip One Nation, One Experience.
Dari sisi sektor keuangan dan dunia usaha, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan, Adi Budiarso mengingatkan, inovasi digital, kepercayaan dan pendalaman sektor keuangan perlu berjalan beriringan agar mampu memperluas pembiayaan, memperkaya instrumen keuangan, serta mendorong investasi dan aktivitas produktif sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Chief Technology Officer BPI Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menekankan pentingnya mengoptimalkan skala dan ekosistem BUMN agar digitalisasi bermuara pada peningkatan produktivitas dan penciptaan nilai. Dengan skala dan ekosistem BUMN yang besar, digitalisasi harus mampu menghasilkan value creation dan memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
FEKDI x IFSE 2026 berlangsung selama tiga hari, pada 24–26 September 2026 di JICC Jakarta, dengan fokus penguatan sinergi nasional pada hari pertama, pengembangan talenta dan inovasi digital pada hari kedua, serta penguatan konektivitas EKD antarnegara pada hari ketiga.
Masyarakat dapat mengikuti berbagai seminar, talkshow, showcase inovasi teknologi, digital experience, dan sesi jejaring. FEKDI x IFSE 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang showcase dan kolaborasi, tetapi juga ruang yang mempertemukan kebijakan, inovasi, talenta, serta kebutuhan nyata industri dan masyarakat untuk mempercepat transformasi EKD nasional. **










Discussion about this post