Potensi Norjemah Pihtar sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa dan budaya tersebut juga sejalan dengan dukungan Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat terhadap pengembangan inovasi yang berkaitan dengan kebudayaan Dayak.
Dukungan tersebut menjadi penguat bagi tim untuk terus mengembangkan Norjemah Pihtar sebagai inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi bahasa dan budaya daerah.
Selain itu, Alexandra membuka peluang untuk memperkenalkan Norjemah Pihtar dalam kegiatan kebudayaan Dayak. Ia menyebut inovasi tersebut dapat diperkenalkan sebagai karya mahasiswa yang memanfaatkan teknologi untuk mendukung pelestarian bahasa dan budaya.
“Nanti disampaikan bahwa ini adalah hasil mahasiswa kita yang membuat alat penerjemah digital, tujuannya untuk pengembangan budaya, alat komunikasi di daerah, dan pelestarian bahasa dan budaya juga,” ujarnya.
Norjemah Pihtar dikembangkan oleh Muhammad Zulkifli selaku ketua tim bersama Daffa Naufal A’bari, Tarisa Arselia, dan Selsa, di bawah bimbingan Khairul Hafidh, S.T., M.Kom.
Inovasi tersebut mendapat pendanaan dari Belmawa Kementerian Sains dan Teknologi (Kemensaintek) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026.
DAD Kota Pontianak menyatakan terbuka untuk berkoordinasi dengan tim dalam membahas dukungan lanjutan terhadap pengembangan Norjemah Pihtar. Alexandra juga mendorong tim untuk menyampaikan perkembangan inovasi tersebut setelah proses pengembangan selesai.
“Intinya DAD dukung penuh karena temuan baru seperti ini sangat mahal. Intinya semangat lah ya, jangan minder dan jangan mikir yang tidak-tidak untuk ke depannya. Nanti setelah kalian selesaikan dan selesai presentasi, update saja ke kami dan kita tentukan langkah berikutnya,” katanya.**









Discussion about this post