Kemarau yang bersifat kering pada periode April hingga Juli, terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sebaliknya, wilayah Sulawesi, Maluku dan Hamahera sebagian besar masih akan mengalami curah hujan tinggi.
BRIN menyampaikan, bahwa dampak kombinasi Godzilla El Nino dan IOD Positif di Indonesia tidak seragam. Fenomena ini disebut pernah juga terjadi di Indonesia pada 2023.
Dampak kekeringan di selatan Indonesia dapat mengancam lumbung padi nasional, sementara dampak banjir berpotensi terjadi di wilayah timur laut Indonesia, lantaran curah hujan tinggi selama kemarau. Lalu ada potensi dampak Karhutla di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan, meski bagian utara kedua pulau ini tetap akan mengalami hujan yang tinggi.
Fenomena perkembangan El Nino juga dikeluarkan oleh ECMWF (European Center Medium-Range Weather Forecasts, yakni lembaga meteorologi independen dari Eropa yang memprediksi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik akan melonjak tajam dalam enam bulan ke depan.
Lonjakan suhu di Samudra yang berada di sebelah timur wilayah Indonesia itu, menjadi dasar prakiraan terbentuknya El Nino pada Agustus nanti. Ada kemungkinan 22 persen potensi terbentuknya El Nino super, 80 persen peristiwa besar (strong), dan 98 persen peristiwa moderat.
Ketika El Nino muncul dengan kekuatan luar biasa, fenomena ini kemudian disebut Godzilla El Nino.
Fenomena tersebut pernah terjadi pada tahun 2015-2016 akibat suhu sangat tinggi di bagian timur Samudra Pasifik, yang memicu serangkaian bencana alam di sejumlah penjuru dunia. **














Discussion about this post