Materi yang disampaikan mencakup pemahaman mendasar mengenai perbedaan data makro (agregat) dan data mikro (individual record), serta bagaimana keduanya dapat dimanfaatkan secara optimal dalam penelitian akademik. Perguruan tinggi didorong untuk menjadikan data sebagai basis argumentasi ilmiah serta penyusunan rekomendasi berbasis bukti (evidence-based policy).
Peserta diperkenalkan pada berbagai sumber data strategis seperti SUSENAS, SAKERNAS, Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi, termasuk mekanisme akses data melalui sistem SILASTIK serta layanan nol rupiah bagi institusi pendidikan sesuai regulasi yang berlaku.
Selain penguatan kapasitas teknis, diskusi juga mengangkat sejumlah isu strategis Kalimantan Barat yang potensial menjadi agenda riset, antara lain ketimpangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), akses digital, kesehatan dan perlindungan sosial, sanitasi dan lingkungan, serta tantangan ketenagakerjaan generasi muda.
Preatin menyampaikan bahwa melalui pemanfaatan data resmi BPS, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan riset yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga berkontribusi pada penyusunan kebijakan pembangunan daerah dan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Neva Satyahadewi sebagai Ketua Pengelola Pojok Statistik UNTAN juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kolaboratif antara UNTAN dan BPS dalam meningkatkan literasi statistik serta memperkuat ekosistem penelitian berbasis data.
Ke depan, Pojok Statistik akan terus menjadi simpul layanan konsultasi data, metodologi statistik, dan pengolahan data bagi sivitas akademika.**












Discussion about this post