Edi menambahkan bahwa dukungan pemerintah kota terhadap investasi dilakukan melalui pembangunan infrastruktur yang memadai, kemudahan perizinan, serta program strategis untuk memperluas peluang usaha.
Komitmen ini diwujudkan dengan penguatan Mal Pelayanan Publik (MPP) yang segera dilengkapi dengan Klinik Investasi sebagai upaya memberikan kemudahan layanan bagi para investor.
“Investasi harus disuport dengan cara kita membangun kualitas infrastruktur yang baik dan regulasi yang ramah,” tegasnya.
Menciptakan Cash flow
Hal senada disampaikan Ekonom Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, Muhammad Fahmi. Menurutnya, masuknya modal ke suatu daerah akan menciptakan aliran uang (cash flow) yang dapat menggerakkan roda perekonomian lokal dengan efek berganda.
“Investasi merupakan salah satu pemicu utama pertumbuhan ekonomi. Dampaknya bersifat multiplier effect dengan mendorong pembangunan fisik, menyerap tenaga kerja lokal, sekaligus menumbuhkan sektor-sektor pendukung lainnya. Paling tidak, kawasan sekitar akan ikut hidup dan memberi efek berkelanjutan pada perputaran roda ekonomi,” jelas Fahmi.
Ia mencontohkan masuknya gerai makanan berskala internasional ke Pontianak sebagai bukti nyata dampak positif investasi. Kehadiran waralaba besar ini tidak hanya persoalan konsumsi makanan semata, tetapi membawa efek domino pembangunan fisik yang melibatkan pemasok lokal, penerimaan pajak daerah, penyerapan tenaga kerja, hingga peluang bagi UMKM setempat untuk masuk ke rantai pasok sektor makanan dan minuman.
“Pontianak sebagai kota kuliner dan perdagangan sangat potensial menjadi magnet investasi di Kalimantan Barat. Dengan sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, kehadiran investasi baru diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. **
Discussion about this post